Sudah menjadi adat kebiasaan warga Besalen dan sekitarnya, pada menjelang bulan Ramadhan, tepatnya bulan Ruwah/Sya’ban masyarakat melaksanakan kenduri ruwahan. Mereka mendoakan para arwah leluhur yang sudah meninggal dunia yang dikemas dalam bentuk kenduri nyadran. Kenduri tersebut dilaksanakan secara perorangan di masing-masing keluarga di rumah masing-masing, namun juga dilakukan secara bersama di Tempat Pemakaman Umum Besalen.
Timbul Wiasih selaku Rois dan sekaligus pengelola makam/Sareyan Gedhe mengungkapkan bahwa nyadran bersama di makam itu dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 25 Ruwah/Sya’ban diikuti oleh warga masyarakat yang memiliki anggota keluarga atau leluhur yang dimakamkan pada Sareyan Gedhe dari enam padukuhan tersebut di atas. Terkait dengan penetapan tanggal 25 Ruwah/Sya’ban sebagai hari pelaksanaan nyadran bersama di Sareyan Gedhe merupakan kesepakatan bersama dan merupakan puncak kegiatan nyadran. Karenanya, bagi keluarga yang mengadakan nyadran perorangan/keluarga diseyogyakan pada hari-hari sebelum tanggal 25 Ruwah/Sya’ban.
Timbul Wiasih juga menegaskan, bahwa nyadran merupakan budaya, bukan ajaran agama, namun juga tidak bisa dibilang sirik. Menurutnya sirik itu jika menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya.
Dalam kegiatan nyadran dilaksanakan dzikir, tahlil, dan diberikan pengertian, bahwa kegiatan nyadran bukan meminta kepada para arwah yang jasadnya dimakamkan pada makam tersebut, melainkan untuk mendoakan para ahli kubur dan sekaligus mengingat kematian.